Tentu, bukan sikap dewasa jika Anda langsung melabrak pasangan Anda jika memperoleh informasi atau melihat ia berduaan dengan orang lain. Bisa jadi, Anda salah menilai, dan akibatnya bisa fatal. Langkah untuk menghadapinya, baca tips berikut.
Pertama, jangan langsung menilai. Bisa jadi Anda mengetahui kabar perselingkuhan ini dari seorang teman. Jangan begitu saja memakan mentah-mentah informasi itu. Telusuri dulu kebenarannya. Jangan pula Anda langsung menanyakan kepada pasangan Anda. Kalaupun benar, bisa jadi ia akan mengelak. Mulailah pelajari perubahan tingkah lakunya.
Kedua, jika ternyata benar pasangan Anda mencari pelampiasan emosi pada orang lain, tenangkan diri dulu, dan introspeksilah. Carilah waktu untuk menyendiri, menjernihkan pikiran, untuk berbicara dengan hati Anda. Bisa jadi, ada sesuatu yang salah pada sikap Anda yang membuat si dia merasa tak nyaman menjalin hubungan. Kalau Anda menemukannya, cepatlah perbaiki.
Ketiga, kalau Anda sudah mengubah sikap, tapi dia tetap menduakan cinta, ini menjadi masalah yang harus segera diselesaikan. Jangan panik atau langsung memutuskan untuk mengakhiri hubungan. Redakan dulu perasaan marah, ketegangan, emosi, dan kekecewaan yang berkecamuk. Penyelesaian apapun dalam keadaan tak terkendali bisa berbuntut penyesalan.
Keempat, bicarakan baik-baik, karena jalan terbaik tetaplah dengan keterbukaan. Jika masih menginginkan hubungan berlanjut, Anda harus sesegera mungkin menyampaikan keberatan-keberatannya atas sikap pasangan Anda, tanpa bernada menyalahkan atau menuduh. Ajukan pertanyaan dengan nada rendah, tanpa tersulut emosi. Utarakan kritik tanpa bernada mengeluh. Kritikan yang dilontarkan secara tajam selalu mengarah pada perilaku menyalahkan pasangan, yang tentu saja akan berbuntut pada mekanisme pertahanan diri, bukan introspeksi untuk menyelesaikan konflik tersebut. Psikolog dan penulis terkenal Dr. Les Parrot menulis dalam bukunya yang terkenal Saving Your Marriage Before It Starts bahwa terlalu banyak bersikap menutup-nutupi amat berpotensi membuat diri Anda depresi.
Menurut Parrot, orang yang gemar menutup-nutupi perasaannya punya gambaran umum seperti, selalu mengatakan 'iya', munafik, ingin membuat senang, takut mengungkapkan kenyataan, dan juga sering menyesali diri. Perasaan tak ikhlas saat mengatakan sesuatu yang palsu amat berpotensi memicu rasa depresi akibat marah, kecewa atau tersinggung. "Anda telah mengorbankan kenyamanan hati Anda demi kesenangan orang lain," ujarnya.

