Kisah dari Mentawai
Kisah ini mengajarkan kekayaan laut kita sekaligus memberitahu bahwa di laut yang dalam itu tak serta merta berdiam makhluk-makhluk jahat. Jika kita baik kepada ikan-ikan laut, maka laut pun turut bersahabat dengan kita. Persahabatan seorang bocah dan Ikan Tata yang mengembarai laut adalah persahabatan antara manusia dan makhluk laut yang saling mempercayai satu sama lainnya.
Pohon-pohon di kampung itu masih hijau. Daun-daunnya melambai dan meliuk ditiup angin. Di kampung itu hiduplah empat orang bersaudara bersama anaknya; seorang perempuan, tiga orang laki-laki. Ayah dan tiga orang laki-laki itu tiap hari pergi ke sebuah pulau untuk bercocok tanam dan mengambil umbi-umbian di hutan. Empat orang yang gagah itu pulang kampung tiap minggu dengan membawa ikan-ikan yang telah dijaring di rantau. Juga membawa hasil tanaman mereka. Sedangkan perempuan dengan mata sipit dan dada membusung itu telah bersuami dan mempunyai seorang bocah yang mungil.
Hari itu, sinar matahari amat cerah, sedikit pun tak terlihat mendung menggantung di langit. Reranting dan cabang pohon bergerak lamban ketika angin datang menyambang. Tampak mereka sangat lelah. Apalagi mereka mesti berangkat kembali ke ladang untuk menyambung hidup dan mencari ikan untuk keluarganya. Akhirnya, agar di rantau mereka punya hiburan, ayah dari empat bersaudara itu meminta pada anak sulungnya untuk mengizinkan anaknya dibawa ke rantau.
“Biar saya perlihatkan dirinya pada sebuah hutan yang hijau. Juga pada burung-burung yang berkicau tiap pagi”.
“Tapi, Yah....”
“Ah, sudahlah! Kami akan menjaga keselamatan anakmu. Kami tidak akan meninggalkannya sendirian.”
Kemudian kakek bocah itu memegang kepalanya dan menatap matanya yang cemerlang.
“Biar kamu puas makan ikan di sana. Ikannya besar-besar dan amat banyak.”
Sang bocah terlihat gembira sekali dan tak sedikit pun memperlihatkan rasa takut. Apa karena ia bersama kakek dan paman-pamanya? Entahlah! Namun paman nomor duanya tidak mengizinkan bocah kecil itu ikut.
“Ombaknya besar. Di sini saja!” tukas kakak nomor dua
“Sudahlah! Dia mau ikut,” paman bungsu menghadap ke arah anak itu. “Iya kan?” lelaki kecil itu mengangguk.
Karena ibu anak itu mengizinkan agar dijaga baik-baik, maka berangkatlah empat orang laki-laki gagah itu. Mereka memanggul tas besar yang berisi pakaian. Mereka berjalan menuju sebuah pantai di mana di pinggir pantai itu pasir putih bersih, pohon cemara melambai merumbai ke laut. Air tenang. Matahari cerlang. Biru langit dan biru laut terlihat amat anggun.
“Kita akan ke sana, Nak!” kata kakeknya sembari menunjukkan pulau yang terlihat remang-remang itu. Di depannya sampan siap mengangkut mereka ke seberang. Ombak lirih. Angin menghablur pantai. Celana komprang berwarna hitam yang dikenakan kakek itu sedikit dijinjing. Ia menaruh cucunya di bahunya.
“Pegang kepala Kakek, Ya!”
Bocah itu tersenyum dan mengangguk. Matanya melirik ke berbagai arah. Akhirnya mereka naik di atas sampan. Paman bungsunya jadi juru mudi. Memegang setir dan mendayung sampan bersama-sama. Sementara kakeknya masih senang menceritakan perihal pulau yang akan disambang pada lelaki kecil itu. Ia hanya senyum-senyum sembari melihat kumis kakeknya yang bergerak-gerak ketika ngomong. He! He!
Tibalah mereka di pulau seberang, mereka turun dari sampan dengan wajah gembira. Kemudian semuanya segera memasuki jantung hutan menuju ladang di mana mereka bercocok tanam.
“Itu,” sang kakek itu mengarahkan telunjuknya ke arah gubuk “Kita tinggal di sana.”
Bocah kecil menatap ke kanan kiri. Ia seperti orang bengong. Ia mendengar kicau burung. Juga suara hewan yang lain yang berderit di kejauhan. Bila malam, belalang hutan menjerit seolah menghiburnya. Terdengar juga suara halilintar yang berkaung-kaung di daerah yang lumayan jauh. Mereka pada istirahat digubuk karena baru saja tiba. Semetara bocah kecil itu ditemani kakeknya di luar gubuk menikmati hijau hutan rimbun yang dipenuhi pohon-pohon dan tumbuhan lain.
Pagi itu burung-burung berkepak ke sana ke mari, bertekukur di balik pohon seolah sedang menyampaikan keceriaan. Udara segar. Embun berserinai di atas rerumputan. Empat orang lelaki dan seorang bocah itu keluar dari gubuk. Di saat itu pulalah mereka merencanakan untuk menangkap ikan di laut untuk lauk.
“Betapa nikmatnya jika nanti malam kita panggang ikan,” ucap paman nomor tiga.
“Tapi….???” Paman paling tua menatap tiga saudaranya itu kemudian terdiam.
“Hmm??”
“Tapi siapa yang akan menjaga gubuk ini yang akan menemani keponakan kita?” lanjut Saudara nomor dua
“Ikut semua,” tukas ayahnya cepat.
“Kita pergi bersama satu sampan.”
Kemudian mereka melaut bersama-sama. Mereka berjalan menuju pantai dan menaiki sampan. Mereka juga membawa pancing, tombak, dan tali. Mereka naiki sampan dan mendayung pelan-pelan hingga sampan itu semakin bergeser ke tengah laut. Ya, tentu laut yang dalam. Ombak berdebur menghablur. Mereka semakin ke tengah. Tiba-tiba seekor Ikan Tata raksasa menelungkup di dekat sampan. Si Kakek mengayunkan tombaknya pada ikan itu.
“Bruggg!!!”
Tombak itu menembus tubuhnya. Ia melemparkan tombak yang sudah ditali di sampan. Ikan raksasa itu berjalan pelan. Semakin ke tengah. Sampan itu dibawanya ke tengah. Semakin ke tengah hingga mereka tak melihat lagi pulau di mana mereka membuka ladang. Orang-orang yang berdiam di atas sampan itu pun panik.
“Putuskan saja talinya, Yah!” seru si bungsu sembari memegang tubuh keponakannya.
“Jangan! Tali tombak ini baru,” jawab sang ayah.
Ikan raksasa itu menelungkup lagi ke permukaan. Kemudian dari mulut ikan itu keluar kata-kata yang dapat dimengerti oleh mereka.
“Berikan cucumu padaku, kalau tidak, kalian semua kubawa ke laut api!”
“Tidak mungkin kuberikan cucuku. Biar aku saja yang kau bawa.”
Kemudian lelaki beruban itu melompat ke mulut ikan yang menganga. “Ayaaaaahhhh!!!” teriak histeris tiga anak laki-lakinya. “Kakeeeekkkk!!” bocah kecil itu memanggilnya karena ia termasuk orang yang paling menyanginya. Ikan besar itu memuntahkan lelaki berkumis tebal itu. Kemudian dengan tubuh basah air laut dan mata asin garam, lelaki tua itu naik ke atas sampan.
“Berikan cucumu padaku!” tukas ikan itu lagi. Di kepala ikan itu terpacak selingkar mahkota seperti dikenakan para raja.
“Ini pasti bukan ikan biasa,” pikir ayah tiga lelaki itu.
“Aku saja,” kata saudara nomor dua.
“Aku saja,” ucap lelaki nomor tiga
“Lebih baik aku saja,” tukas si bungsu.
Mereka melompat bergantian. Melayangkan tubuhnya ke mulut ikan raksasa itu. Namun ikan raksasa itu menolak dan memuntahkan kembali mereka.
“Saya ingin keponakan kalian,” tukas Ikan Tata. “Kalau tidak diberikan, aku akan membawa kalian ke laut api,” lanjut ikan itu.
“Kalau begitu aku saja. Biarkan aku pergi,” si bocah buka mulut.
“Jangan!” seru kakeknya.
Namun larangan kakek tak digubrisnya. Si bocah pun nyemplung ke mulut Ikan Tata yang menganga lebar.
Sang kakek pun berteriak histeris setelah melihat cucunya ditelan ikan itu. Airmata berlinang di pipinya. Ikan itu pun menepati janjinya dan melepas sampan yang sedang dibawanya ke tengah laut. Di atas sampan itu sang kakek dan anak-anaknya termangu. Mereka juga kehilangan arah ke mana mesti pulang. Sedang cucu kesayangannya sudah hilang ditelan ikan. Daratan sama sekali tak terlihat. Barat dan timur, utara dan selatan sudah tak jelas.
Mereka terus saja mendayung menuju satu haluan hingga tampak sebintik sampan. Mereka pun mendayung menuju sampan yang menjaring ikan itu. Pelan-pelan sampan itu terlihat jelas. Setelah betul-betul dekat dengan sampan pencari ikan itu, sang kakek bertanya arah pulang ke kampung mereka. Mereka memberi tahu bahwa ia diseret saekor Ikan Tata yang besar ke palung laut yang dalam.
“Apa kalian punya sisa makanan? Kami lapar sekali!” pinta sang kakek.
“Hanya ada buah nangka,” jawab penangkap ikan itu.
Kemudian ia memberikan nangka dalam sebuah wadah yang tertutup. “Kalau nangka itu sudah habis dimakan, isinya jangan dibuang. Tutup lagi wadah itu. Ketika kamu lapar, kamu akan menemukan nangka baru yang lebih segar,” kata salah satu dari mereka memberi petunjuk. “Bila di siang hari, lihatlah dari mana matahari terbit dan ke mana matahari terbenam. Bila di malam hari, pedomani bintang yang terang.”
Mendapati petunjuk demikian, sampan ayah dan tiga putera itu melaju lagi hingga tiba di sebuah pulau. Ya, pulau yang amat hijau. Namun, bila mereka merasa lapar di perjalanan, mereka membuka wadah itu sesuai yang petunjuk lelaki di atas sampan itu. Selama satu minggu mereka terkatung-katung. Mereka memasuki sebuah hutan kepiting. Bila panas membakar kulit di siang hari, mereka menceburkan badan ke laut.
Hingga pada suatu sore, seorang perempuan berjalan ke sebuah muara dan menceburkan salah satu kakinya di air yang mengalir. Air menggemuruh seperti ketakutan. Perempuan itu merinding mendengar gemuruh air. Astaganaga! Tiba-tiba di depannya muncul seekor Ikan Tata yang besar.
“Tenanglah! Aku hanya ingin mengantar anakmu. Saya lihat dia sendirian dan menangis di tengah lautan. Mendekatlah. Mendekatlah! Sebab di situ terlalu dangkal untuk kusinggahi”
Perempuan itu segera mendekat. Ikan Tata raksasa segera melempar anak itu. Ibunya pun menyangga anaknya yang lunglai. Perempuan itu memeluknya erat dan menangisinya di sungai. Dia tersedu. Kemudian ibu dan anaknya pulang ke rumahnya.
Tak lama kemudian, datanglah tiga orang saudara dan ayahnya dari pulau seberang. Mereka kaget ketika melihat bocah kecil itu tengah digendong ibunya.
“Bukankah…??” suara si bungsu tecegat.
“Kok???” suara ayahnya juga menimpali.
“Kalian pengecut! Kalian berjanji untuk menjaga anak ini, ternyata kalian membiarkan dia. Untung anakku bertemu dengan Ikan Tata yang sayang padanya, ia mengantarkannya kemari. Kalian pengecut!!” kata sang ibu.
Kemudian perempuan itu pergi dari rumahnya bersama anaknya. Perempuan itu membawa semua pakaiannya. Ia berjalan menembus pematang, hutan lindung, bukit-bukit. Tatkala lapar, perempuan itu segera memotong rebung untuk disantap. Tiba-tiba jatuhlah seekor anak Siamang. Perempuan itu menyuruh lelaki kecil itu untuk mengambilnya lalu memutuskan berjalan lagi.
Perempuan itu melihat sebuah gubuk dalam hutan. Tentu gubuk yang masih ada penghuninya. Ia sembunyi di akar sebuah pohon besar hingga malam tiba.
“Pegang mulut Siamang ini agar tak berbunyi” tukas ibu anak itu
Ketika semua penghuni gubuk pada lelap, si bocah itu mencubit Siamang hingga ia menjerit keras. Lantaran ketakutan, penghuni gubuk itu pun melarikan diri. Lalu tingallah si bocah dan sang ibu di hutan yang lebat namun tenteram itu.

