SKADILAZHU

Seteguh Karang di Laut Kalzhum

Bocah Penunggang Ikan Tata

Kisah dari Mentawai

Kisah ini mengajarkan kekayaan laut kita sekaligus memberitahu bahwa di laut yang dalam itu tak serta merta berdiam makhluk-makhluk jahat. Jika kita baik kepada ikan-ikan laut, maka laut pun turut bersahabat dengan kita. Persahabatan seorang bocah dan Ikan Tata yang mengembarai laut adalah persahabatan antara manusia dan makhluk laut yang saling mempercayai satu sama lainnya.

Pohon-pohon di kampung itu masih hijau. Daun-daunnya melambai dan meliuk ditiup angin. Di kampung itu hiduplah empat orang bersaudara bersama anaknya; seorang perempuan, tiga orang laki-laki. Ayah dan tiga orang laki-laki itu tiap hari pergi ke sebuah pulau untuk bercocok tanam dan mengambil umbi-umbian di hutan. Empat orang yang gagah itu pulang kampung tiap minggu dengan membawa ikan-ikan yang telah dijaring di rantau. Juga membawa hasil tanaman mereka. Sedangkan perempuan dengan mata sipit dan dada membusung itu telah bersuami dan mempunyai seorang bocah yang mungil.

Hari itu, sinar matahari amat cerah, sedikit pun tak terlihat mendung menggantung di langit. Reranting dan cabang pohon bergerak lamban ketika angin datang menyambang. Tampak mereka sangat lelah. Apalagi mereka mesti berangkat kembali ke ladang untuk menyambung hidup dan mencari ikan untuk keluarganya. Akhirnya, agar di rantau mereka punya hiburan, ayah dari empat bersaudara itu meminta pada anak sulungnya untuk mengizinkan anaknya dibawa ke rantau.

“Biar saya perlihatkan dirinya pada sebuah hutan yang hijau. Juga pada burung-burung yang berkicau tiap pagi”.
“Tapi, Yah....”
“Ah, sudahlah! Kami akan menjaga keselamatan anakmu. Kami tidak akan meninggalkannya sendirian.”
Kemudian kakek bocah itu memegang kepalanya dan menatap matanya yang cemerlang.
“Biar kamu puas makan ikan di sana. Ikannya besar-besar dan amat banyak.”
Sang bocah terlihat gembira sekali dan tak sedikit pun memperlihatkan rasa takut. Apa karena ia bersama kakek dan paman-pamanya? Entahlah! Namun paman nomor duanya tidak mengizinkan bocah kecil itu ikut.
“Ombaknya besar. Di sini saja!” tukas kakak nomor dua

“Sudahlah! Dia mau ikut,” paman bungsu menghadap ke arah anak itu. “Iya kan?” lelaki kecil itu mengangguk.
Karena ibu anak itu mengizinkan agar dijaga baik-baik, maka berangkatlah empat orang laki-laki gagah itu. Mereka memanggul tas besar yang berisi pakaian. Mereka berjalan menuju sebuah pantai di mana di pinggir pantai itu pasir putih bersih, pohon cemara melambai merumbai ke laut. Air tenang. Matahari cerlang. Biru langit dan biru laut terlihat amat anggun.

“Kita akan ke sana, Nak!” kata kakeknya sembari menunjukkan pulau yang terlihat remang-remang itu. Di depannya sampan siap mengangkut mereka ke seberang. Ombak lirih. Angin menghablur pantai. Celana komprang berwarna hitam yang dikenakan kakek itu sedikit dijinjing. Ia menaruh cucunya di bahunya.
“Pegang kepala Kakek, Ya!”

Bocah itu tersenyum dan mengangguk. Matanya melirik ke berbagai arah. Akhirnya mereka naik di atas sampan. Paman bungsunya jadi juru mudi. Memegang setir dan mendayung sampan bersama-sama. Sementara kakeknya masih senang menceritakan perihal pulau yang akan disambang pada lelaki kecil itu. Ia hanya senyum-senyum sembari melihat kumis kakeknya yang bergerak-gerak ketika ngomong. He! He!
Tibalah mereka di pulau seberang, mereka turun dari sampan dengan wajah gembira. Kemudian semuanya segera memasuki jantung hutan menuju ladang di mana mereka bercocok tanam.

“Itu,” sang kakek itu mengarahkan telunjuknya ke arah gubuk “Kita tinggal di sana.”
Bocah kecil menatap ke kanan kiri. Ia seperti orang bengong. Ia mendengar kicau burung. Juga suara hewan yang lain yang berderit di kejauhan. Bila malam, belalang hutan menjerit seolah menghiburnya. Terdengar juga suara halilintar yang berkaung-kaung di daerah yang lumayan jauh. Mereka pada istirahat digubuk karena baru saja tiba. Semetara bocah kecil itu ditemani kakeknya di luar gubuk menikmati hijau hutan rimbun yang dipenuhi pohon-pohon dan tumbuhan lain.

Pagi itu burung-burung berkepak ke sana ke mari, bertekukur di balik pohon seolah sedang menyampaikan keceriaan. Udara segar. Embun berserinai di atas rerumputan. Empat orang lelaki dan seorang bocah itu keluar dari gubuk. Di saat itu pulalah mereka merencanakan untuk menangkap ikan di laut untuk lauk.
“Betapa nikmatnya jika nanti malam kita panggang ikan,” ucap paman nomor tiga.
“Tapi….???” Paman paling tua menatap tiga saudaranya itu kemudian terdiam.
“Hmm??”
“Tapi siapa yang akan menjaga gubuk ini yang akan menemani keponakan kita?” lanjut Saudara nomor dua
“Ikut semua,” tukas ayahnya cepat.
“Kita pergi bersama satu sampan.”
Kemudian mereka melaut bersama-sama. Mereka berjalan menuju pantai dan menaiki sampan. Mereka juga membawa pancing, tombak, dan tali. Mereka naiki sampan dan mendayung pelan-pelan hingga sampan itu semakin bergeser ke tengah laut. Ya, tentu laut yang dalam. Ombak berdebur menghablur. Mereka semakin ke tengah. Tiba-tiba seekor Ikan Tata raksasa menelungkup di dekat sampan. Si Kakek mengayunkan tombaknya pada ikan itu.
“Bruggg!!!”

Tombak itu menembus tubuhnya. Ia melemparkan tombak yang sudah ditali di sampan. Ikan raksasa itu berjalan pelan. Semakin ke tengah. Sampan itu dibawanya ke tengah. Semakin ke tengah hingga mereka tak melihat lagi pulau di mana mereka membuka ladang. Orang-orang yang berdiam di atas sampan itu pun panik.
“Putuskan saja talinya, Yah!” seru si bungsu sembari memegang tubuh keponakannya.
“Jangan! Tali tombak ini baru,” jawab sang ayah.
Ikan raksasa itu menelungkup lagi ke permukaan. Kemudian dari mulut ikan itu keluar kata-kata yang dapat dimengerti oleh mereka.

“Berikan cucumu padaku, kalau tidak, kalian semua kubawa ke laut api!”
“Tidak mungkin kuberikan cucuku. Biar aku saja yang kau bawa.”
Kemudian lelaki beruban itu melompat ke mulut ikan yang menganga. “Ayaaaaahhhh!!!” teriak histeris tiga anak laki-lakinya. “Kakeeeekkkk!!” bocah kecil itu memanggilnya karena ia termasuk orang yang paling menyanginya. Ikan besar itu memuntahkan lelaki berkumis tebal itu. Kemudian dengan tubuh basah air laut dan mata asin garam, lelaki tua itu naik ke atas sampan.
“Berikan cucumu padaku!” tukas ikan itu lagi. Di kepala ikan itu terpacak selingkar mahkota seperti dikenakan para raja.

“Ini pasti bukan ikan biasa,” pikir ayah tiga lelaki itu.
“Aku saja,” kata saudara nomor dua.
“Aku saja,” ucap lelaki nomor tiga
“Lebih baik aku saja,” tukas si bungsu.
Mereka melompat bergantian. Melayangkan tubuhnya ke mulut ikan raksasa itu. Namun ikan raksasa itu menolak dan memuntahkan kembali mereka.
“Saya ingin keponakan kalian,” tukas Ikan Tata. “Kalau tidak diberikan, aku akan membawa kalian ke laut api,” lanjut ikan itu.

“Kalau begitu aku saja. Biarkan aku pergi,” si bocah buka mulut.
“Jangan!” seru kakeknya.
Namun larangan kakek tak digubrisnya. Si bocah pun nyemplung ke mulut Ikan Tata yang menganga lebar.
Sang kakek pun berteriak histeris setelah melihat cucunya ditelan ikan itu. Airmata berlinang di pipinya. Ikan itu pun menepati janjinya dan melepas sampan yang sedang dibawanya ke tengah laut. Di atas sampan itu sang kakek dan anak-anaknya termangu. Mereka juga kehilangan arah ke mana mesti pulang. Sedang cucu kesayangannya sudah hilang ditelan ikan. Daratan sama sekali tak terlihat. Barat dan timur, utara dan selatan sudah tak jelas.

Mereka terus saja mendayung menuju satu haluan hingga tampak sebintik sampan. Mereka pun mendayung menuju sampan yang menjaring ikan itu. Pelan-pelan sampan itu terlihat jelas. Setelah betul-betul dekat dengan sampan pencari ikan itu, sang kakek bertanya arah pulang ke kampung mereka. Mereka memberi tahu bahwa ia diseret saekor Ikan Tata yang besar ke palung laut yang dalam.
“Apa kalian punya sisa makanan? Kami lapar sekali!” pinta sang kakek.
“Hanya ada buah nangka,” jawab penangkap ikan itu.

Kemudian ia memberikan nangka dalam sebuah wadah yang tertutup. “Kalau nangka itu sudah habis dimakan, isinya jangan dibuang. Tutup lagi wadah itu. Ketika kamu lapar, kamu akan menemukan nangka baru yang lebih segar,” kata salah satu dari mereka memberi petunjuk. “Bila di siang hari, lihatlah dari mana matahari terbit dan ke mana matahari terbenam. Bila di malam hari, pedomani bintang yang terang.”
Mendapati petunjuk demikian, sampan ayah dan tiga putera itu melaju lagi hingga tiba di sebuah pulau. Ya, pulau yang amat hijau. Namun, bila mereka merasa lapar di perjalanan, mereka membuka wadah itu sesuai yang petunjuk lelaki di atas sampan itu. Selama satu minggu mereka terkatung-katung. Mereka memasuki sebuah hutan kepiting. Bila panas membakar kulit di siang hari, mereka menceburkan badan ke laut.
Hingga pada suatu sore, seorang perempuan berjalan ke sebuah muara dan menceburkan salah satu kakinya di air yang mengalir. Air menggemuruh seperti ketakutan. Perempuan itu merinding mendengar gemuruh air. Astaganaga! Tiba-tiba di depannya muncul seekor Ikan Tata yang besar.

“Tenanglah! Aku hanya ingin mengantar anakmu. Saya lihat dia sendirian dan menangis di tengah lautan. Mendekatlah. Mendekatlah! Sebab di situ terlalu dangkal untuk kusinggahi”
Perempuan itu segera mendekat. Ikan Tata raksasa segera melempar anak itu. Ibunya pun menyangga anaknya yang lunglai. Perempuan itu memeluknya erat dan menangisinya di sungai. Dia tersedu. Kemudian ibu dan anaknya pulang ke rumahnya.

Tak lama kemudian, datanglah tiga orang saudara dan ayahnya dari pulau seberang. Mereka kaget ketika melihat bocah kecil itu tengah digendong ibunya.
“Bukankah…??” suara si bungsu tecegat.
“Kok???” suara ayahnya juga menimpali.
“Kalian pengecut! Kalian berjanji untuk menjaga anak ini, ternyata kalian membiarkan dia. Untung anakku bertemu dengan Ikan Tata yang sayang padanya, ia mengantarkannya kemari. Kalian pengecut!!” kata sang ibu.

Kemudian perempuan itu pergi dari rumahnya bersama anaknya. Perempuan itu membawa semua pakaiannya. Ia berjalan menembus pematang, hutan lindung, bukit-bukit. Tatkala lapar, perempuan itu segera memotong rebung untuk disantap. Tiba-tiba jatuhlah seekor anak Siamang. Perempuan itu menyuruh lelaki kecil itu untuk mengambilnya lalu memutuskan berjalan lagi.

Perempuan itu melihat sebuah gubuk dalam hutan. Tentu gubuk yang masih ada penghuninya. Ia sembunyi di akar sebuah pohon besar hingga malam tiba.

“Pegang mulut Siamang ini agar tak berbunyi” tukas ibu anak itu
Ketika semua penghuni gubuk pada lelap, si bocah itu mencubit Siamang hingga ia menjerit keras. Lantaran ketakutan, penghuni gubuk itu pun melarikan diri. Lalu tingallah si bocah dan sang ibu di hutan yang lebat namun tenteram itu.

Dewa Kaladri

Kisah dari Jawa Barat

Kisah ini mengajarkan kepada kita akan pentingnya rasa sabar dan syukur atas apa yang dianugerahkan Tuhan kita. Jika kita dinugerahkan bentuk tubuh yang tak sempurna, janganlah Tuhan disalahkan. Sebab siapa tahu di balik pemberian itu tersembunyi makna yang kita tak tahu bagaimana berpangkal. Selain itu kisah mengajarkan agar selalu menjaga kepercayaan teman. Tapi ketika dikhianati, pantang kita membalas dendam. Sikap yang baik adalah bertawakal dan berdoa semoga teman yang mengkhianati itu segera insyaf.  

Batu-batu bintang berkilau, awan tebal menguap bagai asap melindap, seolah gugusan batu-batu berserinai mirip Gunung Sinai. Mendung tebal berarak pertanda mau hujan. Di Khayangan, mendung tebal itu membentuk sebuah lubang mirip bangunan. Dalam bangunan itu bediam penguasa Khayangan. Lelaki tampan itu memperistri putri Khayangan yang amat cantik bagai bidadari dari lembah surga. Namun kini Danghyang Sakti, nama lelaki itu gelisah.

“Lebih baik kubuang saja anak ini,” gumamnya.
Lelaki itu membenci anaknya. Ia mempunyai seorang anak lelaki yang buruk rupa. Mukanya kisut, matanya picing, kulit hitam pekat, rambut kriting, dagu peyot, perut membuncit, badan kurus, bau badan mirip bau kotoran manusia. Pendeknya tak bisa dibanggakan. Ya, anak itu amat memalukan Danghyang Sakti. Akhirnya, di malam kelam itu, Danghyang membuang anaknya ke bumi. Lelaki jelek dan buruk rupa itu jatuh di sebuah bukit Kujang. Ia menangis tersedu-sedu di bawah sebuah pohon besar, tangannya memegang reranting yang merumbai ke bawah. Tak ada orang di kanan kiri yang dapat menolongnya. Angin bebas meniup tubuhnya yang ringkih itu.

Siangnya, si bocah malang itu menahankan terik matahari yang membakar kulitnya yang tak berkain. Pohon-pohon tampak diam kaku dibakar panas yang menyengat. Dalam suasana itulah lewat seorang lelaki tambun dan rupawan, kumisnya tebal seperti daun kornis, alis tebal, mata binar, bibir mirip irisan jeruk sepasi. Lelaki itu tak lain Bupati Sangkan yang senang melancong ke bukit-bukit, atau sesekali melihat pemandangan-pemandangan indah. Dilihatnya seorang anak tergeletak di tanah. Tak berbaju tak bercelana. Anak itu berkulit hitam kurus. Namun ajaibnya, walau panas seakan membakar sekeliling, anak kecil yang buruk rupa itu seolah tertutup mendung yang menggantung di atasnya. Juga angin bertiup semayup pelan di kulitnya hingga siang itu, bocah hitam pekat reyot itu terlelap kalap.

Bupati Sangkan kemudian memangku anak kecil itu, lalu dibopongnya pulang. Ia dirawat Bupati Sangkan. Mendung yang menggantung itu mengikuti anak itu, ke mana pun ia dibawa. Bupati Sangkan kaget. Ia coba membawa anak itu ke bukit yang pada hari biasanya sungguh panas. Namun tidak saat anak jelek itu dipangkunya. Ia dongakkan kepalanya ke atas. Uh, tampak ada segerombol awan tebal mengatapinya. Bupati Sangkan jadi berpikir, pastilah anak ini bukan anak sembarangan. Itulah sebabnya ia berjanji mantap dalam hati untuk memeliharanya baik-baik.

Sesampai ia di rumah, istrinya yang cantik jelita menyapanya. Namun setelah diperlihatkan bawaan suaminya hari ini, keningnya pun berkerut.

“Siapakah anak lelaki itu?”tanya istrinya.
“Anak ini kutemukan di Bukit Kujang. Anak ini harus kita rawat baik-baik. Anggaplah anak ini seperti anak sendiri.”

Bahu istrinya bergidik setelah melihat rupa dan bentuk bocah jelek yang sedang tidur lelap itu. Perawakannya begitu hitam. Tak berapa lama bocah buruk rupa itu membuka mata dan terbangun. Betapa kagetnya ia melihat sosok lelaki tambun yang tampan dan seorang perempuan cantik duduk di sampingnya. Jika lelaki tambun itu bersikap biasa, tapi tidak perempuan cantik itu. Dia menatap bocah buruk rupa itu sambil menutup hidungnya. Uh, baunya tak keruan. Kemudian istri Bupati Sangkan meminta suaminya untuk tidak menjadikan anak itu sebagai anaknya. Ih, siapa sudi memelihara anak yang sangat buruk rupanya itu.

“Hai anak jelek, hitam, budek!!” tukas istrinya ketika tak ada suaminya. Mulutnya merengut.
Bocah kecil itu diam. Ia tak memperhatikan omelan perempuan itu. Namun diam-diam, sikap istri Bupati Sangkan itu rupanya menyakiti hatinya. Akhirnya, ia pun memilih kabur dari rumah itu tanpa pamit. Ia sisiri hutan, persawahan, bukit-bukit. Ia berjalan sebatangkara walau tak membawa pakaian dan bekal makanan.

***

Di pagi itu, para kawula kerajaan sibuk membersihkan halaman keraton yang dipenuhi daun-daun kering waru saban malam. Mestinya Raja Pakuan Barat itu masih tenang di kediamannya. Namun ia memilih keluar dengan diiringi permaisuri dan para dayangnya menikmati udara sejuk di luar. Matahari pelan-pelan keluar menerangi halaman keraton. Tak lama kemudian sang putri cantik yang bernama putri Tasik Larang Raja Kembang juga keluar bersama pengiringnya. Perempuan cantik jelita itu sudah disunting beberapa putra mahkota kerajaan tetangga, namun Raja Pakuan Barat masih menolak lamaran mereka.

Dan di pagi ini, tatkala mereka sedang keasyikan berbincang-bincang, Raja Pakuan melihat sesosok lelaki kumuh dan buruk rupa memasuki halaman keraton. Lelaki muda itu segera menghampiri Raja Pakuan Barat. Tampaknya sudah diniatkannya untuk haturkan sungkem pada Raja melihat sikapnya yang tanpa takut-takut langsung menghadap Sang Raja.
“Matur sembah sungkem hamba Tuan Raja. Hamba datang dari khayangan. Hamba minta ijin untuk bertapa di bukit.”

“O silahkan anak muda. Bertapalah!! Seusai bertapa, kembalilah ke sini! Temui saya,” ucap Raja Pakuan Barat yang entah kenapa segera mengizinkannya tanpa mesti menyelidiki siapa sejatinya pemuda buruk rupa ini.
Ia kemudian mengundurkan diri dan menuju puncak bukit untuk bertapa. Sebentar-sebentar ia menengok hendak menentukan di atas batu mana ia melangsungkan tapanya. “O itu. Ada batu yang terhampar. Cukup hening untuk tapaku,” pikirnya. Yang tak ia ketahui, disela batu itu bergelung malas seekor ular besar yang memang secara khusus ditugaskan menjaga tempat pertapaan para raja. Ia mengheningkan cipta, berdiam, menjalankan rasa, memusatkan konsentrasi, menenangkan pikiran, puncak sushumna. Dalam tapa bratanya, lelaki itu diberi petunjuk untuk menceburkan tubuhnya di Danau Sipatahunan; sebuah danau yang airnya tak pernah surut.

Mendapat mandat seperti itu, ia pun bangkit. Ia berjalan menuju danau yang yang hanya sepelemparan tombak jauhnya dari tempatnya bertapa. Dilihatnya danau berair jernih itu. Ikan-ikan tampak berkejaran dalam satu kelompok atau sendiri-sendiri.
Byuurrrr!!!

Lelaki buruk rupa itu pun ceburkan diri hingga tubuhnya basah kuyup. Dinginnya air danau itu cukup membuatnya menggigil tak lama setelah ia terjun.

Dan keajaiban pun terjadi. Lelaki muda itu kaget memperhatikan kulit tubuhnya berubah. Ia rabai mukanya, hidung, leher, dada, pinggul, paha, hingga dua kakinya. Semuanya berubah. Disaksikannya kulitnya kini berubah jadi kuning langsat dan berbulu halus tanpa sisik. Ia menengadah ke langit jagad dan membayang lagi masa kecilnya tatkala ia dilempar ke bumi oleh ayahnya. Ia pun bersicepat menyelesaikan mandinya dan berdiri di atas sebongkah batu pinggir danau.

“Ayaaaahhhh!!! Kini aku telah berubaaaah! Apakah ayah masih membencikuuuu!! Jawablah ayaaaah!!!” serunya dengan suara menggelegar memenuhi angkasa danau itu. Saking kerasnya, seruannya itu menembus juga lubang pintu gerbang Kahyangan. Di lapisan langit tertinggi itu, ayah dan ibunya hanya tersenyum mendengar pengaduan anaknya yang terbuang itu.

“Anakku! Selesaikan tapamu. Bila tiba saatnya pulang, pulanglah ke Kahyangan. Aku dan Ibumu sangat merindukanmu pulang,” seru ayahnya yang membuat airmatanya menetes lembut. Ia terharu.
Lelaki muda—dan kini telah berwajah tampan dan bertubuh tegap itu—menuruni menuruni bukit. Didatanginya keraton untuk menemui Raja Pakuan Barat. Melihat perubahan pada tubuh lelaki itu, Raja Pakuan Barat memberinya nama Prabu Anom Munding Kawangi. Saking tertegunnya, Raja Pakuan pun mengikhlaskan putri semata wayangnya disunting Prabu Anom.

“Bila saya meninggal, Prabu Anom Munding Kawangi yang akan naik tahta,” tukas Raja Pakuan Barat pada pejabat-pejabat kerajaan.

Berbulan-bulan Prabu Anom tinggal di kerajaan Pakuan Barat. Lelaki tampan itu membantu mertuanya menyelenggarakan kebijakan kerajaan dan mensejahterakan rakyatnya. Ia melakukan pelbagai macam perbaikan dalam pemerintahan. Beberapa pikiran briliannya diberitahukannya kepada mertuanya dan selanjutnya diselenggarakan para abdi. Rakyat pun kian senang kepada Raja Pakuan. Sebaliknya, Raja Pakuan makin yakin bahwa di bawah kepemimpinan menantunya, kelak kerajaannya ini akan bersinar terang.

***

Jelang sore, senja bertengger di langit jingga. Prabu Anom agak jengah di kerajaan. Ia pun uluk pamit pada mertuanya untuk mengajak istrinya berjalan-jalan, sekaligus mengheningkan cipta di dekat kerajaan yang diperintah Ratu Bagus Banaruddin. Selain bertapa, Raja Anom bermaksud menjenguk teman karibnya yang ia anggap saudaranya itu. Setelah mendapatkan izin, suami-istri itu pun berangkat berdua ke Parung Kujang di mana Ratu Bagus Banaruddin tinggal.

Betapa gembiranya Ratu Bagus dikunjungi sahabatnya yang kini punya gandengan istri cantik seorang raja. Setelah berlepas-lepas kangen, Prabu Anom pun meminta izin sejenak untuk bertapa di Bukit Jaladi. Karena jalan menuju bukit itu curam dan berliku, terpaksa ia menitipkan istrinya pada Ratu Bagus. Prabu Anom meminta agar ia diperlalukan sebagaimana saudara sendiri.
“Baiklah,” jawab Ratu Bagus.

Kemudian  Prabu Anom berangkat bertapa di bukit. Ia susuri jalan meliuk berular-ular, batu-batu tajam bertonjolan yang tak ayal lagi melukai telapak kakinya. Sementara lambat laun Ratu Bagus Banaruddin menaruh rasa cinta pada istri Parabu Anom yang cantik jelita itu. Sebenarnya rasa itu muncul ketika Putri Tasik Raja Kembang baru tiba di tempat itu, namun karena sungkan pada teman karibnya, ia tak lipat rapat rasa sukanya itu. Setelah Prabu Anom menitipkan istrinya kepadanya, melonjak-lonjak perasaan Ratu Bagus. Karena seringnya bersama dan Ratu Bagus terus menggodanya, Putri Larang pun jatuh ke pelukan Ratu Bagus. Keduanya pun kawin diam-diam tanpa sepengetahuan Prabu Anom.

Tujuh bulan kemudian, Prabu Anom turun dari bukit, namun lelaki gagah tampan itu tidak masuk di rumah Ratu Bagus karena sepanjang jalan didengarnya kabar tak enak di kuping bahwa istrinya telah diperistri teman lamanya yang tak mampu menjaga kepercayaan itu. Prabu Anom hanya duduk di sebuah padepokan di luar kerajaan. Medengar kabar kedatangan Prabu Anom dari tapanya, Ratu Bagus mengutus prajuritnya untuk membunuh Prabu Anom. Mereka menggelar pengepungan rapat yang membuat Prabu Anom lari terbirit-birit. Saat di tengah jalan, ia berpapasan seorang lelaki tua. Napas Parabu Anom tersengal-sengal. Hanya sayup-sayup didengarnya Ki Kondoy memperkenalkan namanya.

“Tolong! Tolong!! Tolong!!!” serunya kepada Ki Kondoy.
Karena belas kasih, Ki Kondoy pun menyuruhnya tidur di sebuah lubang pembuangan sampah. Maka tatkala segerombol pengejar menanyakan keberadaan Prabu Anom, Ki Kondoy langsung mengatakan tidak tahu.  Sungguh, atas pertolongan Ki Kondoy itu, Prabu Anom yang terkenal dengan Dewa Kaladri itu mengucapkan uluk terima kasih. Dan sebelum pergi meninggalkan lelaki itu, Prabu Anom bertitah pada Ki Kondoy:
“Terima kasih Ki Kondoy atas kebaikan hatimu. Aku akan pergi. Semoga kau menjadi orang kaya dan senang dalam hidup. Menyadap akan menjadi mata pencaharian anak cucumu. Namun mereka akan kaya sepertimu. Namun saya ingatkan jangan sekali-kali anak cucumu menikah dengan anak turun Ratu Bagus Banaruddin.”
Usai bertitah demikian, Dewa Kaladri pun meninggalkan Ki Kondoy. Ki Kondoy pun kelak menjadi seorang yang kaya raya dari menyadap. Sementara keberadaan Dewa Kaladri tak ada yang tahu di mana. Namun siapa pun yang memunajatkan doa pinta kepadanya, pasti akan menjadi manusia besar, kaya, dan berhati dermawan.

The Only One

When they all come crashing down- midflight
you know you're not the only one
when they're so alone they find a back door out of life
you know you're not the only one

We're all grieving
lost and bleeding

All our lives
we've been waiting
for someone to call our leader
all your lies
I'm not believing
heaven shine a light down on me

So afraid to open your eyes- hypnotized
you know you're not the only one
never understood this life
and you're right I don't deserve but you know I'm not the only one

We're all grieving
lost and bleeding

All our lives
we've been waiting
for someone to call our leader
all your lies
I'm not believing
heaven shine a light down on me

Don't look down
don't look into the eyes of the world beneath you
don't look down, you'll fall down,
you'll become their sacrifice
right or wrong
can't hold onto the fear that I'm lost without you
if I can't feel, I'm not mine,
I'm not real

All our lives
we've been waiting
for someone to call our leader
all your lies
I'm not believing
heaven shine a light down on me